Umum

Mengenai Acara Padusan Masyarakat Jawa yang Jadi Tradisi Menyambut Ramadhan

Masyarakat Jawa memang kental dengan tradisinya yang sangatlah menarik dan juga banyak. Salah satunya adalah padusan yang dilakukan untuk menyambut atau enjelang Ramadhan. Tradisi yang satu ini menjadi salah satu tradisi yang sudah sangat lama dilakukan yakni sudah hadir sejak zaman Wali Songo. Tujuan dari Padusan ini adalah guna membersihkan pribadi pelaksana padusan, baik secara batin maupun lahir agar suci dalam menyambut Bulan Ramadhan. Selain Padusan, biasanya masyarat jawa juga akan melakukan Nyadran atau nyekar untuk menyambut Ramadhan ini. Tentunya bila Nyadran ini akan membutuhkan bunga tabor yang bisa Anda pesan langsung pada Toko Bunga Salatiga.

Nah, untuk Padusan ini sendiri pada mulanya akan dilakukan masyarakat dengan datang ke berbagai sumber mata air lalu membersihkan diri disana. Namun dengan semakin lama, penerapan untuk tradisi Padusan ini yang dilakukan oleh masyarakat Jawa mulai berubah dimana  tidak hanya dilakukan dalam sumber mata air tetapi di rumah sendiri pun juga bisa. Dengan melakukan Padusan inipun juga menjadi ajang untuk intropeksi atau merenung atas segala kesalahan yang sudah dilakukan. makanya akan lebih baik dan disarankan bila melakukan Padusan ini di tempat yang sepi.

Padusan Di Kota Yogyakarta

Yogyakarta adalah salah satu wilayah di Pulau Jawa yang terkenal dengan tradisi Padusan yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakatnya. Tradisi ini sudah diterapkan semenjak dari pemerintahan Hamengkubuwono ke 1. Pada zaman tersebut Padusan ini rutin diadakan pada berbagai sumber mata air atupun kolam masjid yang sudah ditentukan oleh Keraton. Dalam pelaksanaan dari Padusan tersebut,  para laki-laki akan langsung menceburkan diri pada kolom atau sumber mata air yang ada dan bagi yang perempuan tidak diperkenankan untuk melakukan tradisi ini berbarangan dengan pria. Oleh karena budaya yang dinamis, pada tahun 1950, Padusan ini dimaknainya lebih sebagai pembersihan pada rohani tidak pada fisik lagi sehingga tidak perlu untuk datang ke sumber mata air ataupun kolam yang ada di masjid lagi tetapi bisa dari rumah yang dimiliki masyarakakt sendiri-sendiri.

Oleh karena semakin padatnya penduduk dan juga pemukiman, air murni yang biasanya jadi sumber lokasi Padusan ini semakin tercemar. Akibatnya tentu saja sumber air tersebut tidak akan bisa lagi dipergunakan untuk pelaksanaan dari Padusan. Fakta inilah yang juga jadi salah satu penyebab banyak pelaksanaan dari tradisi tersebut yang dilakukan di rumah. Selain di rumah, masyarakat yang mau melakukan Padusan ini bisa datang  saja ke kolam renang terdekat. Semua ini sah-sah saja asalkan niat orang tersebut memang ingin melakukan Padusan yakni mau membersihkan diri sehingga mau dilakukan dimana saja tidaklah jadi masalah.

Salah Kaprah dalam Pelaksanaan Padusan

marigold

Pelaksanaan dari Padusan ini juga sering kali terdapat salah kaprah yang tentu saja sangatlah disayangkan oleh banyak orang. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman soal tradisi tersebut. Saat ini tren dalam Padusan yang berkembang di masyarakat malah melakukan Padusan ini bersama-sama baik perempuan dan juga laki-laki pada tempat yang sama. Hal ini tentu saja salah seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh berada di tempat permandian atau Padusan yang sama. Tidak hanya itu saja, pakaian yang dipergunakan untuk Padusan inipun banyak yang mempergunakan pakaian ketat padahal yang dianjurkan adalah pakaian sopan sesuai dengan tradisi yang berlaku.